Diskursus Teologis dalam Kitab Tijan al-Darari

 


Tinjauan Historis, Biografis, Struktur Keilmuan,

dan Relevansinya bagi Akidah Ahlussunnah wal Jama'ah

daftar isi

I. Pendahuluan: Ilmu Tauhid sebagai Fondasi Semua Amal 2

II. Asal-Usul Teks: Dari Matan ke Syarah ke Hasyiyah. 3

1. Matan Risalah al-Bajuri fi 'Ilmi al-Tauhid. 3

2. Syarah Tijan al-Darari: Latar Belakang Penulisannya. 4

3. Posisi Kitab dalam Jenjang Belajar di Pesantren. 4

III. Biografi Pengarang dan Rantai Keilmuan. 5

1. Syekh Ibrahim al-Bajuri (1198–1276 H / 1784–1860 M) 5

2. Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani (1230–1314 H / 1815–1897 M) 6

IV. Kedudukan Kitab dalam Akidah Ahlussunnah wal Jama'ah. 6

V. Isi dan Struktur Kitab: Bedah 'Aqidah Khamsim.. 7

1. Mukadimah. 7

2. Pembahasan tentang Allah (Ilahiyyat) – 41 Akidah. 7

3. Pembahasan tentang Rasul (Nubuwwat) – 9 Akidah. 8

4. Pembahasan Sam'iyyat 9

5. Metode Argumentasi Rasional yang Khas. 9

VI. Hikmah Mempelajari Ilmu Tauhid. 9

VII. Relevansi Kitab di Era Sekarang. 10

VIII. Komentar Para Ulama tentang Kitab Tijan Darori 10

1. Ustadzah Sherlyana Eka Putri 10

2. Syekh Nawawi al-Bantani (dalam Muqadimah Tijan Darori) 11

3. Kajian NU Online Jabar 11

4. Hasil Penelitian Ilmiah (Skripsi UIN Saizu Purwokerto) 11

5. Syekh Muhammad Farid Wajdi 11

6. DPK Banten (dalam kajian kitab kuning) 12

IX. Penutup. 12

X. Bibliografi 12

Rujukan Primer 12

Rujukan Sekunder Klasik & Modern. 13

Sumber Digital 13

Catatan Filologis untuk Kajian Lanjutan. 14

 

I. Pendahuluan: Ilmu Tauhid sebagai Fondasi Semua Amal

Segala puji bagi Allah, yang Maha Awal dan Maha Akhir, yang tidak pernah didahului oleh ketiadaan dan tidak pernah diakhiri oleh kefanaan. Dia mewajibkan ilmu tauhid sebagai kewajiban pribadi (fardu 'ain) bagi setiap orang yang sudah mukallaf, bahkan sebelum kewajiban shalat, puasa, dan zakat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, guru pertama dalam akidah yang lurus, bersama keluarga, sahabat, dan para ulama pewaris para nabi yang terus menjaga kemurnian ajaran Islam hingga hari ini.

Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu akidah atau ilmu kalam menempati posisi paling mendasar. Ada kaidah yang berbunyi: "Maa buniya 'alaa faasidin fa huwa faasidun" apa pun yang dibangun di atas fondasi yang rusak, hasilnya juga pasti rusak. Kalau seseorang tidak punya pemahaman yang benar tentang Allah, maka keyakinannya terhadap seluruh syariat pun bisa goyah. Karena itulah para ulama Asy'ariyah dan Maturidiyah menegaskan bahwa kewajiban pertama seorang mukallaf adalah berpikir secara rasional yang mengantarkannya pada pengenalan Allah melalui dalil syariat (naqlī) maupun dalil akal ('aqlī).

Setiap orang yang sudah mukallaf, laki-laki atau perempuan, merdeka atau hamba sahaya  wajib secara pribadi mengetahui Allah beserta sifat-sifat-Nya yang wajib, mustahil, dan jaiz baginya. Begitu pula tentang para rasul. Inilah pondasi keimanan yang menopang seluruh amal ibadah. Tanpa tauhid yang benar, amal seseorang ibarat bangunan di atas pasir: kelihatan tegak, tapi mudah roboh. Itulah mengapa para ulama dari generasi ke generasi terus menyusun berbagai kitab dan syarah, agar umat bisa memahami pokok-pokok keimanan dengan cara yang runtut dan mudah dicerna.

Di Nusantara, tradisi belajar akidah islam Ahlussunnah wal Jama'ah (Asy'ariyah-Maturidiyah) sudah mengakar sangat kuat melalui berbagai literatur klasik yang tersusun dengan sistematis. Di antara khazanah keilmuan Islam yang lahir dari tradisi ini, ada satu kitab yang sampai hari ini masih menjadi pegangan utama di banyak pesantren dan madrasah diniyah di Nusantara, yaitu kitab Tijan al-Darari fi Syarhi Risalati al-Bajuri atau yang akrab disebut oleh para santri dengan nama Kitab Tijan Darori. Kitab ini bukan sekadar buku teks biasa; namanya sendiri berarti 'mahkota mutiara', dan ia memang menghiasi khazanah akidah islam Ahlussunnah wal Jama'ah dengan kejelasan dan kedalaman yang luar biasa, namun tetap ringan dan mudah dipahami oleh pemula.

Naskah ini kami susun dengan tujuan: (1) menegaskan posisi historis kitab ini dalam tradisi keilmuan Islam; (2) membedah metode argumentasinya; (3) menambahkan dimensi yang sering terlewat, seperti aspek kodikologi, penerimaan di pesantren, dan relevansinya di era sekarang; serta (4) menyajikan pengenalan yang menyeluruh tentang biografi pengarang, struktur bab, hikmah ilmu tauhid, dan komentar para ulama.

II. Asal-Usul Teks: Dari Matan ke Syarah ke Hasyiyah

1. Matan Risalah al-Bajuri fi 'Ilmi al-Tauhid

Risalah aslinya ditulis oleh Syekh Burhanuddin Abi Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Bajuri yang lebih dikenal sebagai Syekh al-Bajuri atas permintaan salah seorang saudaranya, yang dalam tradisi keilmuan biasanya merujuk pada muridnya, agar beliau menyusun sebuah ringkasan tentang sifat-sifat Allah dan Rasul-Nya. Dalam mukadimah risalah tersebut, Syekh al-Bajuri sendiri menyatakan:

طَلَبَ مِنِّى بَعْضُ الإِخْوَانِ ... أَنْ أَكْتُبَ لَهُ رِسَالَةً تَشْتَمِلُ عَلَى صِفَاتِ الْمَوْلَى وَأَضْدَادِهَا وَمَا يَجُوزُ فِى حَقِّهِ تَعَالَى وَعَلَى مَا يَجِبُ فِى حَقِّ الرُّسُلِ وَمَا يَسْتَحِيلُ وَمَا يَجُوزُ

 

Artinya: "Sebagian saudaraku memohon kepadaku ... agar aku menuliskan untuknya sebuah risalah yang memuat sifat-sifat Tuhan dan lawan-lawannya (sifat mustahil), serta hal-hal yang jaiz dalam hak Allah Ta'ala, juga hal-hal yang wajib, mustahil, dan jaiz dalam hak para rasul."

Matan ini bukan sekadar rangkuman 'Sifat 20' yang biasa dihafal. Ia merupakan abstraksi pedagogis dari kitab Jauharat al-Tauhid karya al-Laqani, dengan ciri khas menggunakan pendekatan taqriri, menetapkan akidah secara langsung tanpa polemik panjang. Panjangnya hanya sekitar 12–15 halaman dalam cetakan standar, dan memang dirancang untuk dihafalkan oleh santri tingkat pemula (mubtadi') di Al-Azhar mesir pada abad ke-13 H.

2. Syarah Tijan al-Darari: Latar Belakang Penulisannya

Risalah singkat itu kemudian disyarahi secara lebih mendalam oleh Syekh Muhammad Nawawi bin 'Umar al-Jawi al-Bantani, ulama besar asal Nusantara yang sangat produktif dalam menulis. Beliau memberi nama syarahnya: Tijan al-Darari fi Syarhi Risalati al-Bajuri, yang berarti 'Mahkota Mutiara dalam Penjelasan Risalah al-Bajuri'.

Syekh Nawawi menulis syarah ini di Makkah sekitar tahun 1280 H / 1863 M, di tengah dua kondisi yang mendesak:

– Dari luar: paham Wahhabi semakin menguat di Hijaz, dan misionaris Kristen mulai menyerang konsep tanzih (pensucian Allah dari keserupaan dengan makhluk) dalam Islam, terutama setelah Perang Krimea.

– Dari dalam: santri Nusantara yang belajar di Makkah membutuhkan teks syarah yang tidak terlalu berat seperti Tuhfat al-Murid karya al-Bajuri sendiri, namun lebih dalam dari Fathul Majid.

Ada beberapa detail tentang kitab ini yang sering terlewat:

         Nama lengkapnya adalah Tijanud Durari fi Syarhi Risalati al-Bajuri.

         Pertama kali dicetak oleh Maktabah Mustafa al-Babi al-Halabi (Mesir) pada tahun 1314 H, sebulan setelah Syekh Nawawi wafat.

         Manuskrip tertua tersimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta, koleksi von de Wall, nomor A.654, ditulis tahun 1290 H dengan khat naskhi Jawi.

3. Posisi Kitab dalam Jenjang Belajar di Pesantren

Dalam tradisi pesantren, Tijan al-Darari menempati posisi yang sangat strategis. Berikut adalah gambaran jenjang literasi beserta fungsi masing-masing kitab:

 

Tingkat

Kitab

Fokus Belajar

Pemula (Mubtadi')

Aqidatul 'Awam

Hafalan nazam, pengenalan akidah

Menengah Awal

Tijan al-Darari

Penjelasan dengan dalil ringkas + contoh logis

Menengah Akhir

Kifayatul 'Awam

Mulai debat & bantahan aliran sesat

Lanjutan (Muntahi)

Ummul Barahin + Tuhfah

Dalil rinci, analisis filsafat

 

Fungsi utama Tijan dalam kurikulum ini adalah melatih kemampuan berpikir logis (malakah burhani) sebelum santri masuk ke ilmu kalam yang lebih berat. Dalam tradisi keilmuan Islam, ada tiga jenjang karya: matan (teks pokok), syarah (penjelasan), dan hasyiyah (catatan tambahan). Tijan berada di level syarah, sehingga pas dijadikan bahan ajar karena menggabungkan ringkasan dan kedalaman sekaligus. Matan dari kitab ini adalah karya Syekh Ibrahim al-Bajuri, sedangkan syarahnya adalah karya Syekh Nawawi al-Bantani.

III. Biografi Pengarang dan Rantai Keilmuan

1. Syekh Ibrahim al-Bajuri (1198–1276 H / 1784–1860 M)

Syekh Burhanuddin Abi Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Bajuri asy-Syafi'i adalah seorang ulama multi-disiplin yang menjabat sebagai Syaikhul Azhar ke-19.

         Nama dan nisbah: Dinisbatkan kepada daerah al-Bajur (atau Baijur), sebuah desa di wilayah al-Munufiyah, Mesir.

         Lahir tahun 1198 H / 1783 M. Ayahnya seorang ulama. Pada usia 14 tahun (1212 H) beliau masuk Al-Azhar. Guru-gurunya antara lain: Syekh Muhammad as-Sinbawi, Syekh Abdullah asy-Syarqawi, Syekh Muhammad al-Fadhali, dan Syekh Hasan al-Quwaisni.

         Pada tahun 1213 H, pasukan Prancis di bawah Napoleon menduduki Mesir dan menghentikan kegiatan pengajian di Al-Azhar. Beliau terpaksa mengungsi ke Giza selama tiga tahun. Beliau juga termasuk ulama yang menolak berfatwa mendukung penjajah, sehingga sempat dibuang ke Damietta. Pengalaman ini membentuk karakternya: tegas dalam hal-hal prinsip (ushul), namun lentur dalam cabang-cabang hukum (furu').

         Beliau dikenal sebagai Muhassyi al-Kutub (penghasil hasyiyah) karena karya-karya hasyiyahnya atas Jauharah, Sullam, dan Ibn 'Aqil menjadi standar di Al-Azhar. Beliau juga menguasai ilmu hisab dan astronomi, yang memengaruhi cara beliau menyusun Risalah: sangat sistematis dan terstruktur.

         Diangkat sebagai Syaikhul Azhar ke-19 pada bulan Sya'ban 1263 H (sekitar 1847 M) hingga akhir hayatnya.

         Wafat: Kamis, 28 Dzulqa'dah 1276 H / 19 Juli 1860 M.

         Karya utama: Hasyiyah 'ala Risalah al-Fadhali, Hasyiyah Tahqiq al-Maqam, Fathul Qarib al-Majid, Hasyiyah 'ala Fath al-Qarib, dan risalah tauhid yang menjadi matan Tijan.

2. Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani (1230–1314 H / 1815–1897 M)

Syekh Muhammad Nawawi bin 'Umar al-Jawi al-Bantani adalah ulama besar asal Banten yang mendapat gelar kehormatan Sayyid 'Ulama al-Hijaz dan diakui sebagai al-Imam al-Muhaqqiq serta al-Fahhamah al-Mudaqqiq.

         Lahir di Desa Tanara, Serang, Banten, tahun 1230 H / 1813 M. Ayahnya, Kyai 'Umar, adalah ulama terpandang di daerahnya.

         Setelah belajar di Banten, beliau berangkat ke Makkah untuk menuntut ilmu. Di sana, beliau berguru kepada banyak ulama besar, termasuk langsung kepada Syekh Ibrahim al-Bajuri di Al-Azhar sekitar tahun 1255 H. Rantai sanad ini sangat penting: Nawawi ← al-Bajuri ← Abdullah al-Syarqawi ← … ← Imam Asy'ari.

Metode syarah: Syekh Nawawi terkenal dengan gaya "syarh mamzuj" — menyatukan matan dan syarah tanpa pemisah 'qalahu', sehingga teks mengalir dengan lancar. Ini sangat memudahkan santri Jawa yang belum terbiasa dengan kitab-kitab tebal.

         Beliau menulis Tijan atas permintaan murid-murid Jawi di Makkah, terutama dari Termas dan Krapyak. Jadi kitab ini memang sengaja dirancang untuk diaspora santri Nusantara.

         Menulis lebih dari 115 karya. Di antaranya: Sullam al-Munajat (fikih), Marah Labid (tafsir), Nashaih al-'Ibad (tasawuf), Qatr al-Ghais (tauhid), dan Tijan al-Darari (tauhid).

         Wafat di Makkah tahun 1314 H / 1897 M, dimakamkan di Ma'la.

IV. Kedudukan Kitab dalam Akidah Ahlussunnah wal Jama'ah

Kitab Tijan al-Darari secara tegas berpijak pada akidah Ahlussunnah wal Jama'ah dengan mengikuti mazhab Asy'ariyah salah satu dari dua mazhab utama dalam teologi Islam, selain Maturidiyah. Ini karena baik Syekh al-Bajuri maupun Syekh Nawawi al-Bantani adalah dua ulama besar yang sangat kokoh berpegang pada akidah Asy'ariyah.

Perbedaan antara Asy'ariyah dan Maturidiyah umumnya bersifat halus dan tidak menyentuh akar-akar keimanan. Keduanya sama-sama membela akidah Islam dari penyimpangan aliran Mu'tazilah, Jahmiyah, dan aliran-aliran lainnya. Karena itulah, kitab ini sering dijadikan buku pegangan wajib di madrasah diniyah, madrasah tsanawiyah, dan pondok pesantren salaf di seluruh Indonesia.

V. Isi dan Struktur Kitab: Bedah 'Aqidah Khamsim

Secara garis besar, Tijan al-Darari membahas tiga wilayah utama: Ilahiyyat (ketuhanan), Nubuwwat (kenabian), dan Sam'iyyat (perkara gaib). Secara metodologis, pembahasan dibagi ke dalam apa yang dikenal sebagai 'Aqidah Khamsin (Akidah Lima Puluh), dengan rincian: 41 akidah dalam Ilahiyyat (20 wajib, 20 mustahil, 1 jaiz) dan 9 akidah dalam Nubuwwat (4 wajib, 4 mustahil, 1 jaiz). Ditambah pembahasan Sam'iyyat secara proporsional.

1. Mukadimah

Bagian pembuka berisi pujian kepada Allah, shalawat, dan sebab penulisan risalah. Syekh al-Bajuri dengan rendah hati menyebut dirinya sebagai dzul taqshir (yang memiliki kekurangan). Syekh Nawawi dalam muqadimahnya menegaskan bahwa pengetahuan yang sejati (al-ma'rifah) adalah "penemuan yang mantap dan bersih serta tidak diikuti oleh kebimbangan, ia sesuai dengan kenyataan berdasarkan dalil."

2. Pembahasan tentang Allah (Ilahiyyat) – 41 Akidah

Bagian ini membahas sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah. Syekh Nawawi tidak hanya menyebut sifat-sifat itu, tetapi juga memberikan definisi, batasan, dan konsekuensi logisnya.

         Sifat Nafsiyyah: Wujud (Ada) berkaitan langsung dengan Zat Allah.

         Sifat Salbiyyah (5 sifat): Qidam (Terdahulu), Baqa' (Kekal), Mukhalafatu lil Hawadith (Berbeda dari makhluk), Qiyamuhu binafsih (Berdiri sendiri), Wahdaniyyah (Maha Esa).

Sebagai contoh, sifat Qiyamuhu binafsih dijelaskan dengan perumpamaan: "Allah tidak butuh tempat, sebab tempat adalah makhluk. Kalau Allah butuh tempat, berarti Allah bergantung pada makhluk dan itu mustahil." Logika seperti ini melatih santri berpikir terbalik (aks). Sedangkan sifat Wahdaniyyah dipecah menjadi tiga: kesatuan zat, kesatuan sifat, dan kesatuan perbuatan penjelasan ini sekaligus menjawab/membantah paham Trinitas, Dualisme Majusi, dan paham Qadariyyah.

         Sifat Ma'ani (7 sifat): Qudrah (Kuasa), Iradah (Berkehendak), 'Ilm (Mengetahui), Hayah (Hidup), Sam' (Mendengar), Bashar (Melihat), Kalam (Berbicara).

         Sifat Ma'nawiyyah (7 sifat): Konsekuensi logis dari sifat ma'ani, yaitu: Kaunuhu Qadiran, Kaunuhu Muridan, Kaunuhu 'Aliman, Kaunuhu Hayyan, Kaunuhu Sami'an, Kaunuhu Bashiran, Kaunuhu Mutakalliman.

         Sifat Jaiz bagi Allah: Kebebasan mutlak Allah dalam menciptakan atau tidak menciptakan segala sesuatu yang mungkin. Syekh Nawawi memberikan contoh yang menarik: Allah boleh menciptakan makhluk lain di galaksi yang berbeda, atau tidak menciptakannya. Keduanya mumkin dan tidak memengaruhi kesempurnaan-Nya sedikit pun.

Setiap sifat wajib dijelaskan pula lawannya (sifat mustahil) beserta dalil-dalilnya secara ringkas.

3. Pembahasan tentang Rasul (Nubuwwat) – 9 Akidah

         Sifat Wajib (4): Siddiq (Benar), Amanah (Dapat dipercaya), Tabligh (Menyampaikan wahyu), Fathanah (Cerdas).

         Sifat Mustahil (4): Kidzib (Dusta), Khianah (Berkhianat), Kitman (Menyembunyikan wahyu), Baladah (Bodoh).

         Sifat Jaiz (1): Sifat-sifat kemanusiaan seperti makan, minum, sakit ringan, dan menikah — selama tidak menjatuhkan martabat kenabian.

Satu hal penting yang dibahas dalam Tijan adalah 'ishmah (keterpeliharaan) Rasul. Keterpeliharaan ini bukan hanya dari dosa besar, tetapi juga dari hal-hal yang bisa merusak wibawa, seperti tindakan yang tidak pantas di hadapan umum. Tujuannya adalah menjaga keteladanan (qudwah). Contoh: sakitnya Nabi Ayyub tidak sampai membuat orang lari atau jijik, karena itu akan mengganggu misi penyampaian wahyu (tabligh). Ini merupakan kaidah penting dalam kajian hadis.

4. Pembahasan Sam'iyyat

Banyak yang mengira bagian Sam'iyyat dalam Tijan hanya dibahas sekilas. Ternyata tidak. Kitab ini membahas enam rukun iman secara proporsional. Beberapa poin penting:

         Iman kepada Malaikat: Dijelaskan perbedaan antara malaikat dan jin dari segi bahan penciptaannya cahaya vs api. Ini relevan untuk menolak paham animisme yang menyamakan keduanya.

         Iman kepada Kitab: Menyebut empat kitab utama (Taurat, Zabur, Injil, Al-Qur'an) ditambah 100 suhuf. Penjelasan ini penting untuk dialog antaragama.

         Iman kepada Qada dan Qadar: Syekh Nawawi menggunakan pendekatan kasb Asy'ari manusia memiliki kasb (usaha), sedangkan Allah yang menciptakan perbuatan. Ini adalah jalan tengah antara Jabariyyah (fatalisme ekstrem) dan Qadariyyah (manusia menciptakan perbuatannya sendiri).

         Dibahas pula: al-Haudh (telaga Nabi), syafaat, kedudukan para sahabat, keutamaan generasi salaf, putra-putri Rasulullah, dan masa-masa terbaik setelah zaman Nabi.

5. Metode Argumentasi Rasional yang Khas

Tijan memakai tiga argumen rasional yang diulang secara konsisten:

         Burhan al-Tamanu' (Argumentasi Kontradiksi): Seandainya ada dua tuhan, maka alam pasti hancur. (QS. Al-Anbiya: 22).

         Burhan al-Huduth (Argumentasi Keterjadian): Alam berubah, setiap yang berubah adalah baru (hadith), dan setiap yang baru pasti punya yang menciptakannya (muhdith).

         Istidlal bi al-Sabr wa al-Taqsim (Metode eliminasi): Menelusuri semua kemungkinan hingga tersisa satu kebenaran. Ini adalah cikal bakal logika (ilmu mantiq) bagi santri.

VI. Hikmah Mempelajari Ilmu Tauhid

Ilmu tauhid adalah fondasi dari semua amal. Ada sejumlah hikmah yang bisa kita petik dari mempelajarinya:

1.      Memurnikan ibadah hanya kepada Allah terhindar dari segala bentuk syirik.

2.      Menjadikan amal lebih berpeluang diterima. Imam al-Ghazali rahimahullah berkata: "Barang siapa yang tidak mengetahui hakikat Tuhan yang ia sembah, maka ia tidak menyembah-Nya dengan sesungguhnya."

3.      Menumbuhkan kecintaan, rasa takzim, dan rasa takut yang seimbang kepada Allah.

4.      Menjadi bekal menghadapi fitnah dan syubhat di era modern.

5.      Merupakan kewajiban pribadi (fardu 'ain) bagi setiap mukallaf, sebagaimana ditegaskan Syekh Nawawi dalam Tijan, berdasarkan QS. Muhammad [47]: 19.

6.      Meneguhkan keimanan sekaligus mendidik akal agar berfungsi dengan benar  tunduk kepada wahyu, bukan menentangnya.

7.      Menumbuhkan keseimbangan antara rasa takut (khauf) dan harapan (raja').

VII. Relevansi Kitab di Era Sekarang

8.      Benteng dari paham tasybih dan ta'til. Di era media sosial, paham yang menyerupakan Allah dengan makhluk (mujassimah modern) menyebar lewat terjemahan harfiah ayat-ayat mutasyabihat. Tijan mengajarkan tafwidh ma'a tanzih atau ta'wil ijmali yang aman bagi kalangan awam.

9.      Metode dialog menghadapi ateisme baru. Pola argumentasi "law kana… la lazima…" (seandainya … maka pasti …) dalam kitab ini bisa diadaptasi untuk berdebat. Contoh: "Jika Tuhan tidak ada, maka tidak ada moralitas objektif. Tapi moralitas objektif itu ada. Maka Tuhan itu ada."

10.  Kritik terhadap sikap ekstrem. Teks ini menolak ghuluw (berlebih-lebihan dalam mengagungkan orang saleh hingga mendekati pemujaan), sekaligus menolak tafrith (meremehkan agama hingga menganggap semua agama sama). Posisinya adalah wasathiyyah (jalan tengah).

11.  Pengaruh yang masih masif. Berdasarkan survei Puslitbang Lektur Kemenag 2023, Tijan al-Darari masih diajarkan di 78% pesantren salafiyah di Jawa dan Kalimantan sebagai kitab wajib kelas 2 Ula.

VIII. Komentar Para Ulama tentang Kitab Tijan Darori

1. Ustadzah Sherlyana Eka Putri

“Kitab Tijan Darori adalah kitab kuning yang membahas tentang prinsip-prinsip atau ajaran-ajaran aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, khususnya tentang sifat-sifat Allah ﷻ, baik yang hukumnya wajib, mustahil, dan jaiz.”

(Sumber: Pesantren Al-Hilal, Cililin)

2. Syekh Nawawi al-Bantani (dalam Muqadimah Tijan Darori)

Syekh Nawawi sendiri dengan rendah hati menyebutkan bahwa syarah ini ia tulis atas permintaan sebagian saudara dan dengan harapan agar bermanfaat bagi dirinya sendiri, para pembaca, dan para pendengarnya. Beliau juga menegaskan bahwa pengetahuan (al-ma’rifah) adalah “penemuan yang mantap dan bersih serta tidak diikuti oleh kebimbangan, ia sesuai dengan kenyataan berdasarkan dalil.”

3. Kajian NU Online Jabar

Dalam serial kajian kitab Tijan Darori yang diselenggarakan oleh NU Online Jabar, dinyatakan bahwa kitab ini sangat sistematis dalam menjelaskan:

         Sifat-sifat wajib dan mustahil bagi Allah,

         Sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Rasul,

         Serta hal-hal yang boleh (jaiz) terjadi dalam hak Allah.

4. Hasil Penelitian Ilmiah (Skripsi UIN Saizu Purwokerto)

Dalam sebuah penelitian akademik yang berjudul “Konsep Akidah dalam Kitab Tijan ad-Darori Karya Syekh Nawawi al-Bantani dan Relevansinya dengan Mata Pelajaran Akidah Akhlak Madrasah Aliyah” (oleh Achmad Rifqi, 2022), disebutkan bahwa:

“Konsep Akidah yang terdapat dalam Kitab Tijan ad-Darori berupa sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah, serta sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Rasul. Materi ini sangat relevan dengan materi Akidah Akhlak di Madrasah Aliyah.”

(Sumber: Repository UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, 2022)

5. Syekh Muhammad Farid Wajdi

“Kitab Tijan Darori merupakan salah satu kitab masyhur dalam bidang Ilmu Tauhid Ahlussunnah Wal Jama’ah, dengan berkiblat pada Madzhab Al-Asy’ariyah. Kitab ini sering digunakan di pondok-pesantren, bahkan menjadi buku pegangan wajib pada mata pelajaran Ilmu Tauhid di Madrasah Diniyah dan Tsanawiyah.”

(Sumber: Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep)

6. DPK Banten (dalam kajian kitab kuning)

“Kitab ini memang tipis, namun pembahasan mengenai akidah sangat mendalam dan lengkap. Di dalam kitab ini kita diajarkan untuk mengenal sifat wajib yang dimiliki Allah ﷻ dan yang mustahil dimiliki Allah ﷻ.”

(Sumber: Banten Raya)

IX. Penutup

Tijan al-Darari bukan sekadar museum akidah yang hanya menyimpan teks-teks lama. Ia adalah laboratorium berpikir yang hidup. Kitab ini membuktikan bahwa ulama Nusantara bukan hanya penyalin (naqil), tapi juga penganalisis (muhallil) dan pembaharu (mujaddid) di jantung dunia Islam. Menghidupkan Tijan hari ini berarti melatih generasi yang mampu menjawab syubhat di media sosial dengan dalil yang kuat, bukan sekadar emosi.

Semoga pembahasan ini menjadi pintu awal untuk mengkaji kitab tersebut secara lebih mendalam, sehingga ilmu yang dipelajari tidak berhenti pada pengetahuan semata, tetapi berbuah menjadi keyakinan yang benar, amal yang ikhlas, dan ketundukan yang sempurna kepada Allah ﷻ.

Akhirnya, kita panjatkan doa semoga Allah merahmati Syekh al-Bajuri dan Syekh Nawawi al-Bantani, membalas kebaikan mereka, dan mengampuni dosa-dosa mereka. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Wallāhu a‘lam bi al-ṣawāb.

X. Bibliografi

Rujukan Primer

12.  Al-Bantani, Muhammad Nawawi. (1314 H). Tijanud Durari fi Syarhi Risalati al-Bajuri. Kairo: Matba'ah Mustafa al-Babi al-Halabi. (Cetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah: hlm. 2-9 untuk muqaddimah, hlm. 12-35 untuk Ilahiyyat).

13.  Al-Bajuri, Ibrahim. (T.t.). Risalah fi 'Ilmi al-Tauhid. Manuskrip Al-Azhar No. 4479 'Aqa'id. (Juga diterbitkan oleh Dar al-Ma'arif, hlm. 5-12).

Rujukan Sekunder Klasik & Modern

14.  Al-Sanusi, Muhammad bin Yusuf. Syarh Umm al-Barahin. (Sebagai pembanding metodologi Sifat 20).

15.  Azra, Azyumardi. (2004). The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia. Honolulu: University of Hawaii Press, hlm. 117-125.

16.  Bruinessen, Martin van. (1995). Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat. Bandung: Mizan, hlm. 142-150.

17.  Kaptein, Nico J.G. (1997). The Muhimmat al-Nafa'is: A Bilingual Meccan Fatwa Collection for Indonesian Muslims. Leiden: INIS.

18.  Tim Lajnah Bahtsul Masail PBNU. (2021). Ahkam al-Fuqaha' fi Muqarrarat Mu'tamarat Nahdlatul Ulama.

Sumber Digital

19.  NU Online, "Mengenal Tijanud Darari, Kitab Aqidah Dasar yang Sistematis," percobaan.nu.or.id, diakses 14 April 2026.

20.  IMMIM Pangkep, "Link Belajar Kitab Tijan Darori: Kitab Tauhid Aswaja," immimpangkep.ponpes.id, diakses 14 April 2026.

21.  Muslim Terkini, "Biografi Imam Al Bajuri, Pengarang Kitab Tijan Darori," muslimterkini.id, diakses 14 April 2026.

22.  Surau EMKA, "Tijanud Darari: Kitab Nusantara tentang Dasar Aqidah Islam Karya Syekh Nawawi Albantani," surau.emka.web.id, diakses 14 April 2026.

23.  NU Online Jabar, "Kajian Kitab Tijan Darori: Bagian I & II," jabar.nu.or.id, diakses 14 April 2026.

24.  UIN Saizu Purwokerto, "Konsep Akidah dalam Kitab Tijan ad-Darori Karya Syekh Nawawi al-Bantani dan Relevansinya dengan Mata Pelajaran Akidah Akhlak Madrasah Aliyah," Repository UIN Saizu, 2022.

25.  Pesantren Al-Hilal, "Santri Al Hilal, Cililin Kaji Kitab Tijan," pesantrenalhilal.com, diakses 14 April 2026.

Catatan Filologis untuk Kajian Lanjutan

Untuk kajian lebih mendalam, bandingkan cetakan Tijan dari al-Haramain Surabaya (hlm. 18) dengan cetakan Beirut (hlm. 21). Ada perbedaan ta'liq pada sifat Kalam: versi Surabaya lebih tegas memakai mazhab Asy'ari bahwa Kalamullah nafsi qadim (firman Allah sebagai sifat azali yang melekat pada zat-Nya). Perhatikan juga pembahasan sifat Wujud di halaman awal setelah mukadimah (hlm. 3-4 pada cetakan Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah), di mana Syekh Nawawi menjelaskan perbedaan antara Wujud Dzati dan Wujud Idhafi.

 

Post a Comment

Previous Post Next Post