Tinjauan
Historis, Biografis, Struktur Keilmuan,
dan
Relevansinya bagi Akidah Ahlussunnah wal Jama'ah
daftar isi
I. Pendahuluan: Ilmu
Tauhid sebagai Fondasi Semua Amal
II. Asal-Usul Teks: Dari Matan ke Syarah ke Hasyiyah
1. Matan Risalah al-Bajuri fi 'Ilmi al-Tauhid
2. Syarah Tijan al-Darari: Latar Belakang Penulisannya
3. Posisi Kitab dalam Jenjang Belajar di Pesantren
III. Biografi Pengarang dan Rantai Keilmuan
1. Syekh Ibrahim al-Bajuri (1198–1276 H / 1784–1860 M)
2. Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani (1230–1314 H / 1815–1897 M)
IV. Kedudukan Kitab dalam Akidah Ahlussunnah wal Jama'ah
V. Isi dan Struktur Kitab: Bedah 'Aqidah Khamsim
2. Pembahasan tentang Allah (Ilahiyyat) – 41 Akidah
3. Pembahasan tentang Rasul (Nubuwwat) – 9 Akidah
5. Metode Argumentasi Rasional yang Khas
VI. Hikmah Mempelajari Ilmu Tauhid
VII. Relevansi Kitab di Era Sekarang
VIII. Komentar Para Ulama tentang Kitab Tijan Darori
1. Ustadzah Sherlyana Eka Putri
2. Syekh Nawawi al-Bantani (dalam Muqadimah Tijan Darori)
4. Hasil Penelitian Ilmiah (Skripsi UIN Saizu Purwokerto)
6. DPK Banten (dalam kajian kitab kuning)
Rujukan Sekunder Klasik & Modern
Catatan Filologis untuk Kajian Lanjutan
I. Pendahuluan: Ilmu Tauhid sebagai Fondasi Semua Amal
Segala puji bagi Allah, yang
Maha Awal dan Maha Akhir, yang tidak pernah didahului oleh ketiadaan dan tidak
pernah diakhiri oleh kefanaan. Dia mewajibkan ilmu tauhid sebagai kewajiban
pribadi (fardu 'ain) bagi setiap orang yang sudah mukallaf, bahkan sebelum
kewajiban shalat, puasa, dan zakat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada
Nabi Muhammad, guru pertama dalam akidah yang lurus, bersama keluarga, sahabat,
dan para ulama pewaris para nabi yang terus menjaga kemurnian ajaran Islam
hingga hari ini.
Dalam tradisi keilmuan Islam,
ilmu akidah atau ilmu kalam menempati posisi paling mendasar. Ada kaidah yang
berbunyi: "Maa buniya 'alaa faasidin fa huwa faasidun" apa pun
yang dibangun di atas fondasi yang rusak, hasilnya juga pasti rusak. Kalau
seseorang tidak punya pemahaman yang benar tentang Allah, maka keyakinannya
terhadap seluruh syariat pun bisa goyah. Karena itulah para ulama Asy'ariyah
dan Maturidiyah menegaskan bahwa kewajiban pertama seorang mukallaf adalah
berpikir secara rasional yang mengantarkannya pada pengenalan Allah melalui
dalil syariat (naqlī) maupun dalil akal ('aqlī).
Setiap orang yang sudah
mukallaf, laki-laki atau perempuan, merdeka atau hamba sahaya wajib secara pribadi mengetahui Allah beserta
sifat-sifat-Nya yang wajib, mustahil, dan jaiz baginya. Begitu pula tentang
para rasul. Inilah pondasi keimanan yang menopang seluruh amal ibadah. Tanpa
tauhid yang benar, amal seseorang ibarat bangunan di atas pasir: kelihatan
tegak, tapi mudah roboh. Itulah mengapa para ulama dari generasi ke generasi
terus menyusun berbagai kitab dan syarah, agar umat bisa memahami pokok-pokok
keimanan dengan cara yang runtut dan mudah dicerna.
Di Nusantara, tradisi belajar
akidah islam Ahlussunnah wal Jama'ah (Asy'ariyah-Maturidiyah) sudah mengakar
sangat kuat melalui berbagai literatur klasik yang tersusun dengan sistematis.
Di antara khazanah keilmuan Islam yang lahir dari tradisi ini, ada satu kitab
yang sampai hari ini masih menjadi pegangan utama di banyak pesantren dan
madrasah diniyah di Nusantara, yaitu kitab Tijan al-Darari fi Syarhi
Risalati al-Bajuri atau yang akrab disebut oleh para santri dengan nama Kitab
Tijan Darori. Kitab ini bukan sekadar buku teks biasa; namanya sendiri
berarti 'mahkota mutiara', dan ia memang menghiasi khazanah akidah islam
Ahlussunnah wal Jama'ah dengan kejelasan dan kedalaman yang luar biasa, namun
tetap ringan dan mudah dipahami oleh pemula.
Naskah ini kami susun dengan
tujuan: (1) menegaskan posisi historis kitab ini dalam tradisi keilmuan Islam;
(2) membedah metode argumentasinya; (3) menambahkan dimensi yang sering
terlewat, seperti aspek kodikologi, penerimaan di pesantren, dan relevansinya
di era sekarang; serta (4) menyajikan pengenalan yang menyeluruh tentang
biografi pengarang, struktur bab, hikmah ilmu tauhid, dan komentar para ulama.
II. Asal-Usul Teks: Dari Matan ke Syarah ke Hasyiyah
1. Matan Risalah al-Bajuri fi 'Ilmi al-Tauhid
Risalah aslinya ditulis oleh
Syekh Burhanuddin Abi Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Bajuri yang lebih
dikenal sebagai Syekh al-Bajuri atas permintaan salah seorang saudaranya, yang
dalam tradisi keilmuan biasanya merujuk pada muridnya, agar beliau menyusun
sebuah ringkasan tentang sifat-sifat Allah dan Rasul-Nya. Dalam mukadimah
risalah tersebut, Syekh al-Bajuri sendiri menyatakan:
طَلَبَ
مِنِّى بَعْضُ الإِخْوَانِ ... أَنْ أَكْتُبَ لَهُ رِسَالَةً تَشْتَمِلُ عَلَى
صِفَاتِ الْمَوْلَى وَأَضْدَادِهَا وَمَا يَجُوزُ فِى حَقِّهِ تَعَالَى وَعَلَى
مَا يَجِبُ فِى حَقِّ الرُّسُلِ وَمَا يَسْتَحِيلُ وَمَا يَجُوزُ
Artinya: "Sebagian
saudaraku memohon kepadaku ... agar aku menuliskan untuknya sebuah risalah yang
memuat sifat-sifat Tuhan dan lawan-lawannya (sifat mustahil), serta hal-hal
yang jaiz dalam hak Allah Ta'ala, juga hal-hal yang wajib, mustahil, dan jaiz
dalam hak para rasul."
Matan ini bukan sekadar
rangkuman 'Sifat 20' yang biasa dihafal. Ia merupakan abstraksi pedagogis dari
kitab Jauharat al-Tauhid karya al-Laqani, dengan ciri khas menggunakan
pendekatan taqriri, menetapkan akidah secara langsung tanpa polemik panjang.
Panjangnya hanya sekitar 12–15 halaman dalam cetakan standar, dan memang
dirancang untuk dihafalkan oleh santri tingkat pemula (mubtadi') di Al-Azhar mesir
pada abad ke-13 H.
2. Syarah Tijan al-Darari: Latar Belakang Penulisannya
Risalah singkat itu kemudian
disyarahi secara lebih mendalam oleh Syekh Muhammad Nawawi bin 'Umar al-Jawi
al-Bantani, ulama besar asal Nusantara yang sangat produktif dalam menulis.
Beliau memberi nama syarahnya: Tijan al-Darari fi Syarhi Risalati al-Bajuri,
yang berarti 'Mahkota Mutiara dalam Penjelasan Risalah al-Bajuri'.
Syekh Nawawi menulis syarah
ini di Makkah sekitar tahun 1280 H / 1863 M, di tengah dua kondisi yang
mendesak:
– Dari luar: paham Wahhabi
semakin menguat di Hijaz, dan misionaris Kristen mulai menyerang konsep tanzih
(pensucian Allah dari keserupaan dengan makhluk) dalam Islam, terutama setelah
Perang Krimea.
– Dari dalam: santri Nusantara
yang belajar di Makkah membutuhkan teks syarah yang tidak terlalu berat seperti
Tuhfat al-Murid karya al-Bajuri sendiri, namun lebih dalam dari Fathul Majid.
Ada beberapa detail tentang
kitab ini yang sering terlewat:
•
Nama lengkapnya adalah Tijanud Durari fi Syarhi
Risalati al-Bajuri.
•
Pertama kali dicetak oleh Maktabah Mustafa al-Babi
al-Halabi (Mesir) pada tahun 1314 H, sebulan setelah Syekh Nawawi wafat.
•
Manuskrip tertua tersimpan di Perpustakaan
Nasional Jakarta, koleksi von de Wall, nomor A.654, ditulis tahun 1290 H dengan
khat naskhi Jawi.
3. Posisi Kitab dalam Jenjang Belajar di Pesantren
Dalam tradisi pesantren, Tijan
al-Darari menempati posisi yang sangat strategis. Berikut adalah gambaran
jenjang literasi beserta fungsi masing-masing kitab:
|
Tingkat |
Kitab |
Fokus Belajar |
|
Pemula (Mubtadi') |
Aqidatul 'Awam |
Hafalan nazam, pengenalan
akidah |
|
Menengah Awal |
Tijan al-Darari |
Penjelasan dengan dalil ringkas
+ contoh logis |
|
Menengah Akhir |
Kifayatul 'Awam |
Mulai debat & bantahan
aliran sesat |
|
Lanjutan (Muntahi) |
Ummul Barahin + Tuhfah |
Dalil rinci, analisis filsafat |
Fungsi utama Tijan dalam
kurikulum ini adalah melatih kemampuan berpikir logis (malakah burhani) sebelum
santri masuk ke ilmu kalam yang lebih berat. Dalam tradisi keilmuan Islam, ada
tiga jenjang karya: matan (teks pokok), syarah (penjelasan), dan hasyiyah
(catatan tambahan). Tijan berada di level syarah, sehingga pas dijadikan bahan
ajar karena menggabungkan ringkasan dan kedalaman sekaligus. Matan dari kitab
ini adalah karya Syekh Ibrahim al-Bajuri, sedangkan syarahnya adalah karya
Syekh Nawawi al-Bantani.
III. Biografi Pengarang dan Rantai Keilmuan
1. Syekh Ibrahim al-Bajuri (1198–1276 H / 1784–1860 M)
Syekh Burhanuddin Abi Ishaq
Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Bajuri asy-Syafi'i adalah seorang ulama
multi-disiplin yang menjabat sebagai Syaikhul Azhar ke-19.
•
Nama dan nisbah: Dinisbatkan kepada daerah
al-Bajur (atau Baijur), sebuah desa di wilayah al-Munufiyah, Mesir.
•
Lahir tahun 1198 H / 1783 M. Ayahnya seorang
ulama. Pada usia 14 tahun (1212 H) beliau masuk Al-Azhar. Guru-gurunya antara
lain: Syekh Muhammad as-Sinbawi, Syekh Abdullah asy-Syarqawi, Syekh Muhammad
al-Fadhali, dan Syekh Hasan al-Quwaisni.
•
Pada tahun 1213 H, pasukan Prancis di bawah
Napoleon menduduki Mesir dan menghentikan kegiatan pengajian di Al-Azhar.
Beliau terpaksa mengungsi ke Giza selama tiga tahun. Beliau juga termasuk ulama
yang menolak berfatwa mendukung penjajah, sehingga sempat dibuang ke Damietta.
Pengalaman ini membentuk karakternya: tegas dalam hal-hal prinsip (ushul),
namun lentur dalam cabang-cabang hukum (furu').
•
Beliau dikenal sebagai Muhassyi al-Kutub
(penghasil hasyiyah) karena karya-karya hasyiyahnya atas Jauharah, Sullam, dan
Ibn 'Aqil menjadi standar di Al-Azhar. Beliau juga menguasai ilmu hisab dan
astronomi, yang memengaruhi cara beliau menyusun Risalah: sangat sistematis dan
terstruktur.
•
Diangkat sebagai Syaikhul Azhar ke-19 pada bulan
Sya'ban 1263 H (sekitar 1847 M) hingga akhir hayatnya.
•
Wafat: Kamis, 28 Dzulqa'dah 1276 H / 19 Juli 1860
M.
•
Karya utama: Hasyiyah 'ala Risalah al-Fadhali,
Hasyiyah Tahqiq al-Maqam, Fathul Qarib al-Majid, Hasyiyah 'ala Fath al-Qarib,
dan risalah tauhid yang menjadi matan Tijan.
2. Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani (1230–1314 H /
1815–1897 M)
Syekh Muhammad Nawawi bin
'Umar al-Jawi al-Bantani adalah ulama besar asal Banten yang mendapat gelar
kehormatan Sayyid 'Ulama al-Hijaz dan diakui sebagai al-Imam al-Muhaqqiq serta
al-Fahhamah al-Mudaqqiq.
•
Lahir di Desa Tanara, Serang, Banten, tahun 1230 H
/ 1813 M. Ayahnya, Kyai 'Umar, adalah ulama terpandang di daerahnya.
•
Setelah belajar di Banten, beliau berangkat ke
Makkah untuk menuntut ilmu. Di sana, beliau berguru kepada banyak ulama besar,
termasuk langsung kepada Syekh Ibrahim al-Bajuri di Al-Azhar sekitar tahun 1255
H. Rantai sanad ini sangat penting: Nawawi ← al-Bajuri ← Abdullah al-Syarqawi ←
… ← Imam Asy'ari.
Metode syarah: Syekh Nawawi terkenal dengan gaya
"syarh mamzuj" — menyatukan matan dan syarah tanpa pemisah 'qalahu',
sehingga teks mengalir dengan lancar. Ini sangat memudahkan santri Jawa yang
belum terbiasa dengan kitab-kitab tebal.
•
Beliau menulis Tijan atas permintaan murid-murid
Jawi di Makkah, terutama dari Termas dan Krapyak. Jadi kitab ini memang sengaja
dirancang untuk diaspora santri Nusantara.
•
Menulis lebih dari 115 karya. Di antaranya: Sullam
al-Munajat (fikih), Marah Labid (tafsir), Nashaih al-'Ibad (tasawuf), Qatr
al-Ghais (tauhid), dan Tijan al-Darari (tauhid).
•
Wafat di Makkah tahun 1314 H / 1897 M, dimakamkan
di Ma'la.
IV. Kedudukan Kitab dalam Akidah Ahlussunnah wal Jama'ah
Kitab Tijan al-Darari secara
tegas berpijak pada akidah Ahlussunnah wal Jama'ah dengan mengikuti mazhab
Asy'ariyah salah satu dari dua mazhab utama dalam teologi Islam, selain
Maturidiyah. Ini karena baik Syekh al-Bajuri maupun Syekh Nawawi al-Bantani
adalah dua ulama besar yang sangat kokoh berpegang pada akidah Asy'ariyah.
Perbedaan antara Asy'ariyah
dan Maturidiyah umumnya bersifat halus dan tidak menyentuh akar-akar keimanan.
Keduanya sama-sama membela akidah Islam dari penyimpangan aliran Mu'tazilah,
Jahmiyah, dan aliran-aliran lainnya. Karena itulah, kitab ini sering dijadikan
buku pegangan wajib di madrasah diniyah, madrasah tsanawiyah, dan pondok
pesantren salaf di seluruh Indonesia.
V. Isi dan Struktur Kitab: Bedah 'Aqidah Khamsim
Secara garis besar, Tijan
al-Darari membahas tiga wilayah utama: Ilahiyyat (ketuhanan), Nubuwwat
(kenabian), dan Sam'iyyat (perkara gaib). Secara metodologis, pembahasan dibagi
ke dalam apa yang dikenal sebagai 'Aqidah Khamsin (Akidah Lima Puluh), dengan
rincian: 41 akidah dalam Ilahiyyat (20 wajib, 20 mustahil, 1 jaiz) dan 9 akidah
dalam Nubuwwat (4 wajib, 4 mustahil, 1 jaiz). Ditambah pembahasan Sam'iyyat
secara proporsional.
1. Mukadimah
Bagian pembuka berisi pujian
kepada Allah, shalawat, dan sebab penulisan risalah. Syekh al-Bajuri dengan
rendah hati menyebut dirinya sebagai dzul taqshir (yang memiliki kekurangan).
Syekh Nawawi dalam muqadimahnya menegaskan bahwa pengetahuan yang sejati
(al-ma'rifah) adalah "penemuan yang mantap dan bersih serta tidak diikuti
oleh kebimbangan, ia sesuai dengan kenyataan berdasarkan dalil."
2. Pembahasan tentang Allah (Ilahiyyat) – 41 Akidah
Bagian ini membahas
sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah. Syekh Nawawi tidak hanya
menyebut sifat-sifat itu, tetapi juga memberikan definisi, batasan, dan
konsekuensi logisnya.
•
Sifat Nafsiyyah: Wujud (Ada) berkaitan langsung
dengan Zat Allah.
•
Sifat Salbiyyah (5 sifat): Qidam (Terdahulu),
Baqa' (Kekal), Mukhalafatu lil Hawadith (Berbeda dari makhluk), Qiyamuhu
binafsih (Berdiri sendiri), Wahdaniyyah (Maha Esa).
Sebagai contoh, sifat Qiyamuhu
binafsih dijelaskan dengan perumpamaan: "Allah tidak butuh tempat, sebab
tempat adalah makhluk. Kalau Allah butuh tempat, berarti Allah bergantung pada
makhluk dan itu mustahil." Logika seperti ini melatih santri berpikir
terbalik (aks). Sedangkan sifat Wahdaniyyah dipecah menjadi tiga: kesatuan zat,
kesatuan sifat, dan kesatuan perbuatan penjelasan ini sekaligus menjawab/membantah
paham Trinitas, Dualisme Majusi, dan paham Qadariyyah.
•
Sifat Ma'ani (7 sifat): Qudrah (Kuasa), Iradah
(Berkehendak), 'Ilm (Mengetahui), Hayah (Hidup), Sam' (Mendengar), Bashar
(Melihat), Kalam (Berbicara).
•
Sifat Ma'nawiyyah (7 sifat): Konsekuensi logis
dari sifat ma'ani, yaitu: Kaunuhu Qadiran, Kaunuhu Muridan, Kaunuhu 'Aliman,
Kaunuhu Hayyan, Kaunuhu Sami'an, Kaunuhu Bashiran, Kaunuhu Mutakalliman.
•
Sifat Jaiz bagi Allah: Kebebasan mutlak Allah
dalam menciptakan atau tidak menciptakan segala sesuatu yang mungkin. Syekh
Nawawi memberikan contoh yang menarik: Allah boleh menciptakan makhluk lain di
galaksi yang berbeda, atau tidak menciptakannya. Keduanya mumkin dan tidak
memengaruhi kesempurnaan-Nya sedikit pun.
Setiap sifat wajib dijelaskan
pula lawannya (sifat mustahil) beserta dalil-dalilnya secara ringkas.
3. Pembahasan tentang Rasul (Nubuwwat) – 9 Akidah
•
Sifat Wajib (4): Siddiq (Benar), Amanah (Dapat
dipercaya), Tabligh (Menyampaikan wahyu), Fathanah (Cerdas).
•
Sifat Mustahil (4): Kidzib (Dusta), Khianah
(Berkhianat), Kitman (Menyembunyikan wahyu), Baladah (Bodoh).
•
Sifat Jaiz (1): Sifat-sifat kemanusiaan seperti
makan, minum, sakit ringan, dan menikah — selama tidak menjatuhkan martabat
kenabian.
Satu hal penting yang dibahas
dalam Tijan adalah 'ishmah (keterpeliharaan) Rasul. Keterpeliharaan ini bukan
hanya dari dosa besar, tetapi juga dari hal-hal yang bisa merusak wibawa,
seperti tindakan yang tidak pantas di hadapan umum. Tujuannya adalah menjaga
keteladanan (qudwah). Contoh: sakitnya Nabi Ayyub tidak sampai membuat orang lari
atau jijik, karena itu akan mengganggu misi penyampaian wahyu (tabligh). Ini
merupakan kaidah penting dalam kajian hadis.
4. Pembahasan Sam'iyyat
Banyak yang mengira bagian
Sam'iyyat dalam Tijan hanya dibahas sekilas. Ternyata tidak. Kitab ini membahas
enam rukun iman secara proporsional. Beberapa poin penting:
•
Iman kepada Malaikat: Dijelaskan perbedaan antara
malaikat dan jin dari segi bahan penciptaannya cahaya vs api. Ini relevan untuk
menolak paham animisme yang menyamakan keduanya.
•
Iman kepada Kitab: Menyebut empat kitab utama
(Taurat, Zabur, Injil, Al-Qur'an) ditambah 100 suhuf. Penjelasan ini penting
untuk dialog antaragama.
•
Iman kepada Qada dan Qadar: Syekh Nawawi menggunakan
pendekatan kasb Asy'ari manusia memiliki kasb (usaha), sedangkan Allah yang
menciptakan perbuatan. Ini adalah jalan tengah antara Jabariyyah (fatalisme
ekstrem) dan Qadariyyah (manusia menciptakan perbuatannya sendiri).
•
Dibahas pula: al-Haudh (telaga Nabi), syafaat,
kedudukan para sahabat, keutamaan generasi salaf, putra-putri Rasulullah, dan
masa-masa terbaik setelah zaman Nabi.
5. Metode Argumentasi Rasional yang Khas
Tijan memakai tiga argumen
rasional yang diulang secara konsisten:
•
Burhan al-Tamanu' (Argumentasi Kontradiksi):
Seandainya ada dua tuhan, maka alam pasti hancur. (QS. Al-Anbiya: 22).
•
Burhan al-Huduth (Argumentasi Keterjadian): Alam
berubah, setiap yang berubah adalah baru (hadith), dan setiap yang baru pasti
punya yang menciptakannya (muhdith).
•
Istidlal bi al-Sabr wa al-Taqsim (Metode
eliminasi): Menelusuri semua kemungkinan hingga tersisa satu kebenaran. Ini
adalah cikal bakal logika (ilmu mantiq) bagi santri.
VI. Hikmah Mempelajari Ilmu Tauhid
Ilmu tauhid adalah fondasi
dari semua amal. Ada sejumlah hikmah yang bisa kita petik dari mempelajarinya:
1. Memurnikan ibadah
hanya kepada Allah terhindar dari segala bentuk syirik.
2. Menjadikan amal lebih
berpeluang diterima. Imam al-Ghazali rahimahullah berkata: "Barang siapa
yang tidak mengetahui hakikat Tuhan yang ia sembah, maka ia tidak menyembah-Nya
dengan sesungguhnya."
3. Menumbuhkan
kecintaan, rasa takzim, dan rasa takut yang seimbang kepada Allah.
4. Menjadi bekal
menghadapi fitnah dan syubhat di era modern.
5. Merupakan kewajiban
pribadi (fardu 'ain) bagi setiap mukallaf, sebagaimana ditegaskan Syekh Nawawi
dalam Tijan, berdasarkan QS. Muhammad [47]: 19.
6. Meneguhkan keimanan
sekaligus mendidik akal agar berfungsi dengan benar tunduk kepada wahyu, bukan menentangnya.
7. Menumbuhkan
keseimbangan antara rasa takut (khauf) dan harapan (raja').
VII. Relevansi Kitab di Era Sekarang
8. Benteng dari paham
tasybih dan ta'til. Di
era media sosial, paham yang menyerupakan Allah dengan makhluk (mujassimah
modern) menyebar lewat terjemahan harfiah ayat-ayat mutasyabihat. Tijan
mengajarkan tafwidh ma'a tanzih atau ta'wil ijmali yang aman bagi kalangan
awam.
9. Metode dialog
menghadapi ateisme baru. Pola argumentasi "law kana… la lazima…" (seandainya … maka pasti
…) dalam kitab ini bisa diadaptasi untuk berdebat. Contoh: "Jika Tuhan
tidak ada, maka tidak ada moralitas objektif. Tapi moralitas objektif itu ada.
Maka Tuhan itu ada."
10. Kritik terhadap
sikap ekstrem. Teks ini
menolak ghuluw (berlebih-lebihan dalam mengagungkan orang saleh hingga
mendekati pemujaan), sekaligus menolak tafrith (meremehkan agama hingga
menganggap semua agama sama). Posisinya adalah wasathiyyah (jalan tengah).
11. Pengaruh yang
masih masif. Berdasarkan
survei Puslitbang Lektur Kemenag 2023, Tijan al-Darari masih diajarkan di 78%
pesantren salafiyah di Jawa dan Kalimantan sebagai kitab wajib kelas 2 Ula.
VIII. Komentar Para Ulama tentang Kitab Tijan Darori
1. Ustadzah Sherlyana Eka Putri
“Kitab Tijan Darori adalah kitab kuning yang
membahas tentang prinsip-prinsip atau ajaran-ajaran aqidah Ahlussunnah wal
Jama’ah, khususnya tentang sifat-sifat Allah ﷻ, baik yang hukumnya wajib, mustahil,
dan jaiz.”
(Sumber: Pesantren Al-Hilal, Cililin)
2. Syekh Nawawi al-Bantani (dalam Muqadimah Tijan Darori)
Syekh Nawawi sendiri dengan
rendah hati menyebutkan bahwa syarah ini ia tulis atas permintaan sebagian
saudara dan dengan harapan agar bermanfaat bagi dirinya sendiri, para pembaca,
dan para pendengarnya. Beliau juga menegaskan bahwa pengetahuan (al-ma’rifah)
adalah “penemuan yang mantap dan bersih serta tidak diikuti oleh kebimbangan,
ia sesuai dengan kenyataan berdasarkan dalil.”
3. Kajian NU Online Jabar
Dalam serial kajian kitab
Tijan Darori yang diselenggarakan oleh NU Online Jabar, dinyatakan bahwa kitab
ini sangat sistematis dalam menjelaskan:
•
Sifat-sifat wajib dan mustahil bagi Allah,
•
Sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Rasul,
•
Serta hal-hal yang boleh (jaiz) terjadi dalam hak
Allah.
4. Hasil Penelitian Ilmiah (Skripsi UIN Saizu Purwokerto)
Dalam sebuah penelitian
akademik yang berjudul “Konsep Akidah dalam Kitab Tijan ad-Darori Karya Syekh
Nawawi al-Bantani dan Relevansinya dengan Mata Pelajaran Akidah Akhlak Madrasah
Aliyah” (oleh Achmad Rifqi, 2022), disebutkan bahwa:
“Konsep Akidah yang terdapat dalam Kitab Tijan
ad-Darori berupa sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah, serta
sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Rasul. Materi ini sangat relevan
dengan materi Akidah Akhlak di Madrasah Aliyah.”
(Sumber: Repository UIN Prof. K.H.
Saifuddin Zuhri Purwokerto, 2022)
5. Syekh Muhammad Farid Wajdi
“Kitab Tijan Darori merupakan salah satu kitab
masyhur dalam bidang Ilmu Tauhid Ahlussunnah Wal Jama’ah, dengan berkiblat pada
Madzhab Al-Asy’ariyah. Kitab ini sering digunakan di pondok-pesantren, bahkan
menjadi buku pegangan wajib pada mata pelajaran Ilmu Tauhid di Madrasah Diniyah
dan Tsanawiyah.”
(Sumber: Blog Pesantren Modern Putri
IMMIM Pangkep)
6. DPK Banten (dalam kajian kitab kuning)
“Kitab ini memang tipis, namun pembahasan mengenai
akidah sangat mendalam dan lengkap. Di dalam kitab ini kita diajarkan untuk
mengenal sifat wajib yang dimiliki Allah ﷻ dan yang mustahil dimiliki Allah ﷻ.”
(Sumber: Banten Raya)
IX. Penutup
Tijan al-Darari bukan sekadar
museum akidah yang hanya menyimpan teks-teks lama. Ia adalah laboratorium
berpikir yang hidup. Kitab ini membuktikan bahwa ulama Nusantara bukan hanya
penyalin (naqil), tapi juga penganalisis (muhallil) dan pembaharu (mujaddid) di
jantung dunia Islam. Menghidupkan Tijan hari ini berarti melatih generasi yang
mampu menjawab syubhat di media sosial dengan dalil yang kuat, bukan sekadar
emosi.
Semoga pembahasan ini menjadi
pintu awal untuk mengkaji kitab tersebut secara lebih mendalam, sehingga ilmu
yang dipelajari tidak berhenti pada pengetahuan semata, tetapi berbuah menjadi
keyakinan yang benar, amal yang ikhlas, dan ketundukan yang sempurna kepada
Allah ﷻ.
Akhirnya, kita panjatkan doa
semoga Allah merahmati Syekh al-Bajuri dan Syekh Nawawi al-Bantani, membalas
kebaikan mereka, dan mengampuni dosa-dosa mereka. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Wallāhu a‘lam bi al-ṣawāb.
X. Bibliografi
Rujukan Primer
12. Al-Bantani, Muhammad
Nawawi. (1314 H). Tijanud Durari fi Syarhi Risalati al-Bajuri. Kairo: Matba'ah
Mustafa al-Babi al-Halabi. (Cetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah: hlm. 2-9 untuk
muqaddimah, hlm. 12-35 untuk Ilahiyyat).
13. Al-Bajuri, Ibrahim.
(T.t.). Risalah fi 'Ilmi al-Tauhid. Manuskrip Al-Azhar No. 4479 'Aqa'id. (Juga
diterbitkan oleh Dar al-Ma'arif, hlm. 5-12).
Rujukan Sekunder Klasik & Modern
14. Al-Sanusi, Muhammad
bin Yusuf. Syarh Umm al-Barahin. (Sebagai pembanding metodologi Sifat 20).
15. Azra, Azyumardi.
(2004). The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia. Honolulu:
University of Hawaii Press, hlm. 117-125.
16. Bruinessen, Martin
van. (1995). Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat. Bandung: Mizan, hlm. 142-150.
17. Kaptein, Nico J.G.
(1997). The Muhimmat al-Nafa'is: A Bilingual Meccan Fatwa Collection for
Indonesian Muslims. Leiden: INIS.
18. Tim Lajnah Bahtsul
Masail PBNU. (2021). Ahkam al-Fuqaha' fi Muqarrarat Mu'tamarat Nahdlatul Ulama.
Sumber Digital
19. NU Online,
"Mengenal Tijanud Darari, Kitab Aqidah Dasar yang Sistematis,"
percobaan.nu.or.id, diakses 14 April 2026.
20. IMMIM Pangkep,
"Link Belajar Kitab Tijan Darori: Kitab Tauhid Aswaja,"
immimpangkep.ponpes.id, diakses 14 April 2026.
21. Muslim Terkini,
"Biografi Imam Al Bajuri, Pengarang Kitab Tijan Darori,"
muslimterkini.id, diakses 14 April 2026.
22. Surau EMKA, "Tijanud
Darari: Kitab Nusantara tentang Dasar Aqidah Islam Karya Syekh Nawawi
Albantani," surau.emka.web.id, diakses 14 April 2026.
23. NU Online Jabar,
"Kajian Kitab Tijan Darori: Bagian I & II," jabar.nu.or.id,
diakses 14 April 2026.
24. UIN Saizu Purwokerto,
"Konsep Akidah dalam Kitab Tijan ad-Darori Karya Syekh Nawawi al-Bantani
dan Relevansinya dengan Mata Pelajaran Akidah Akhlak Madrasah Aliyah,"
Repository UIN Saizu, 2022.
25. Pesantren Al-Hilal,
"Santri Al Hilal, Cililin Kaji Kitab Tijan," pesantrenalhilal.com,
diakses 14 April 2026.
Catatan Filologis untuk Kajian Lanjutan
Untuk kajian lebih mendalam,
bandingkan cetakan Tijan dari al-Haramain Surabaya (hlm. 18) dengan cetakan
Beirut (hlm. 21). Ada perbedaan ta'liq pada sifat Kalam: versi Surabaya lebih
tegas memakai mazhab Asy'ari bahwa Kalamullah nafsi qadim (firman Allah sebagai
sifat azali yang melekat pada zat-Nya). Perhatikan juga pembahasan sifat Wujud
di halaman awal setelah mukadimah (hlm. 3-4 pada cetakan Dar al-Kutub
al-'Ilmiyyah), di mana Syekh Nawawi menjelaskan perbedaan antara Wujud Dzati
dan Wujud Idhafi.
Post a Comment