Comments

{getWidget} $results={3} $label={comments} $type={list1}
Ngaji kitab Alala Part 2_Nadzom 1-4 dan penjelasannya

By On Friday, January 17, 2025


Daftar isi

Pendahuluan. 1

Bait 1- 4. 1

Penjelasan. 2

Kesimpulan. 6

Penutup. 6

 

 

Pendahuluan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk sahabat pena pesantren di mana pun kalian berada. Semoga hari ini kita semua dalam keadaan sehat dan selalu diberkahi oleh Allah SWT. 

Pada kesempatan kali ini, kita akan melanjutkan kajian kita dalam seri Ngaji Kitab Al-‘Ala, bagian kedua, yang membahas empat bait pertama. Dalam bait-bait ini, kita akan mempelajari dua topik penting: 

1. Enam syarat utama untuk meraih ilmu. 

2. Panduan bijak dalam memilih teman, yang sangat memengaruhi perjalanan kita dalam menuntut ilmu dan kehidupan secara umum. 

Mari kita simak dan renungkan bersama nasihat berharga ini. Semoga pembahasan ini dapat memberikan manfaat dan memotivasi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. 

 

Bait 1- 4

سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ

#

اَلاَ لاَتَنَالُ الْعِلْمَ اِلاَّ بِســــِتَّةٍ

باكال تأ چٓريتا أ كي كومڤولي كانطي ڤٓرتيلا

 

أيليڠا دأ حاصل علم أڠيڠ نٓم ڤٓركارا

وَاِرْشَادِ اُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ

#

ذُكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ

لان ڤيوولاڠي ڮورو لان سيڠ سووي ماڠساني

 

روڤاني لـيمڤات لوبا صابار أنا ساڠوني

فَإِنَّ القَرِيْنَ بِالْـمُقَـارِنِ يَقْتَـــدِيْ

#

عَنِ الْـمَرْءِ لاَ تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ

كٓراناسأتٓـمٓني كانچا مانوت كاڠ ڠانچاني

 

جا تاكون ساكا ووڠ سيجي تاكونو كانچاني

فَاِنْ كَانَ ذَاخَيْرٍ فَقَارِنْهُ تَهْتَـدِيْ

#

فَاِنْ كَانَ ذَا شَرٍّ فَجَنِّبْـهُ سُــرْعَةً

يين أنا كانچا باڮوس أيڠڮال داڠ كانچانانا

 

يين أنا كانچا ألا لاكوني داڠ دوهانا

 

Penjelasan

Bait 1

اَلاَ لاَتَنَالُ الْعِلْمَ اِلاَّ بِســــِتَّةٍ # سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ 

Ingat, kalian tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara, aku akan memberitahumu tentang kumpulannya dengan penjelasan.

Penjabaran

Bait ini menjadi pengantar yang menjelaskan bahwa ilmu tidak bisa diperoleh dengan sembarangan. Ada enam syarat utama yang harus dipenuhi untuk meraih ilmu. Penulis (penyair) memberikan janji bahwa dia akan menjelaskan enam hal tersebut secara rinci. Hal ini menekankan pentingnya memahami dan mempraktikkan syarat-syarat tersebut untuk berhasil dalam menuntut ilmu. 

Keterangan

Penyair memulai dengan gaya bahasa yang persuasif dan mengajak pembaca untuk memperhatikan, seolah-olah dia ingin memberi tahu rahasia yang penting. Pendekatan ini menarik perhatian dan memberikan semangat kepada pembaca atau pendengar.

Bait 2

ذُكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ # وَاِرْشَادُ اُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ 

Yaitu cerdas, semangat, sabar, biaya, petunjuk ustadz, dan lama waktunya.

Penjabaran

Enam syarat yang disebutkan dalam bait ini adalah: 

1. ذُكَاءٍ (Kecerdasan)

Cerdas berarti mampu memahami dengan cepat dan memiliki kemampuan berpikir yang baik. Namun, kecerdasan alami juga perlu diasah melalui usaha. 

2. حِرْصٍ (Semangat)

Semangat menunjukkan keinginan yang kuat untuk terus belajar dan pantang menyerah, meskipun ada tantangan. 

3. اصْطِبَارٍ (Kesabaran)

Sabar adalah kemampuan untuk menghadapi kesulitan dan hambatan dalam proses belajar dengan tenang dan konsisten. 

4. بُلْغَةٍ (Biaya)

Menuntut ilmu membutuhkan dukungan finansial untuk memenuhi kebutuhan seperti buku, guru, atau fasilitas belajar lainnya. 

5. اِرْشَادُ اُسْتَاذٍ (Bimbingan guru)

Seorang guru yang mumpuni diperlukan untuk memberikan arahan yang benar agar proses belajar menjadi efektif. 

6. طُوْلِ زَمَانٍ (Waktu yang lama)

Ilmu tidak bisa didapatkan secara instan; diperlukan waktu yang cukup untuk mempelajari, memahami, dan mendalaminya. 

Keterangan: 

Keenam syarat ini saling melengkapi. Tanpa salah satunya, proses menuntut ilmu akan menjadi tidak sempurna. Pesan ini mengajarkan pentingnya integrasi antara usaha, bimbingan, dan waktu.

Bait 3

عَنِ الْـمَرْءِ لاَ تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ # فَإِنَّ القَرِيْنَ بِالْـمُقَـارِنِ يَقْتَـــدِيْ

Jangan bertanya tentang seseorang, tapi tanyalah tentang temannya, karena sesungguhnya teman akan mengikuti temannya.

Penjabaran: 

Bait ini berbicara tentang pentingnya lingkungan sosial dalam membentuk karakter seseorang. Teman dekat seseorang sering mencerminkan kepribadian dan kebiasaan orang tersebut. Oleh karena itu, jika ingin mengenal karakter seseorang, perhatikanlah siapa teman-temannya. 

Keterangan: 

Ungkapan ini sesuai dengan pepatah "Jika ingin tahu sifat seseorang, lihatlah siapa temannya." Dalam konteks menuntut ilmu, memilih teman yang baik dan memiliki semangat belajar sangat penting karena mereka dapat memotivasi kita.

Bait 4

فَاِنْ كَانَ ذَا شَرٍّ فَجَنِّبْـهُ سُــرْعَةً # فَاِنْ كَانَ ذَاخَيْرٍ فَقَارِنْهُ تَهْتَـدِيْ 

Bila temannya memiliki kejelekan maka jauhilah secepatnya, dan bila temannya memiliki kebaikan maka temanilah dia, maka kamu akan mendapatkan petunjuk.

Penjabaran: 

Nasihat dalam bait ini memberikan panduan praktis dalam memilih teman: 

1. Hindari teman yang buruk

Teman yang buruk dapat memberikan pengaruh negatif, baik pada perilaku, pola pikir, maupun kebiasaan kita. Oleh karena itu, jauhilah teman yang memiliki kebiasaan jelek dengan segera. 

2. Dekati teman yang baik

Sebaliknya, teman yang baik akan memberikan dampak positif, seperti memotivasi untuk belajar dan berbuat kebaikan. Dengan berteman dengan orang baik, kita akan mendapatkan petunjuk ke arah yang benar. 

Keterangan: 

Bait ini menekankan pentingnya memilih teman dengan bijak. Dalam konteks menuntut ilmu, teman yang baik dapat menjadi penyemangat dan partner dalam belajar, sedangkan teman yang buruk dapat menjadi penghambat.

Kesimpulan

Naskah ini memberikan dua pesan utama: 

1. Syarat menuntut ilmu: Enam syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan ilmu dengan benar, yaitu kecerdasan, semangat, kesabaran, biaya, bimbingan guru, dan waktu yang cukup. 

2. Tips memilih teman: Pentingnya memilih teman yang baik karena mereka dapat memengaruhi jalan hidup dan kesuksesan kita, termasuk dalam menuntut ilmu. 

3. Nasihat ini relevan sepanjang zaman dan sangat aplikatif bagi siapa saja yang ingin sukses dalam menuntut ilmu maupun kehidupan secara umum.

Penutup 

Demikianlah pembahasan kita tentang empat bait pertama dari Kitab Al-‘Ala. Dari kajian ini, kita mendapatkan dua pelajaran penting: 

1. Enam syarat menuntut ilmu, yaitu kecerdasan, semangat, kesabaran, biaya, bimbingan guru, dan waktu yang cukup. Semua syarat ini saling melengkapi dan harus dipenuhi untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. 

2. Tips memilih teman, yaitu menjauhi teman yang buruk dan mendekati teman yang baik. Lingkungan sosial yang positif sangat berperan dalam membantu kita tumbuh dan sukses dalam menuntut ilmu. 

Semoga apa yang kita pelajari hari ini bisa menjadi pedoman dalam kehidupan kita sehari-hari. Jangan lupa untuk selalu mendalami ilmu, memperbaiki diri, dan memilih lingkungan yang mendukung kebaikan. 

Sampai jumpa di kajian berikutnya. Jangan lupa untuk like, subscribe, comment, dan share agar semakin banyak orang yang mendapatkan manfaat dari channel Pena Pesantren. Terima kasih atas perhatian kalian, dan sampai jumpa lagi!

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


 

Ngaji kitab Alala Part 1

By On Friday, November 22, 2024


Daftar isi

PENDAHULUAN.. 1

Latar Belakang dan Sejarah Penulisan Kitab. 2

Gambaran Isi Kitab. 2

Tujuan Penulisan Kitab Alala. 2

Keutamaan dan Pentingnya Kitab Alala. 3

Relevansi Kitab Alala dalam Pembelajaran dan Pendidikan Akhlak di Pesantren. 3

Kontribusi Kitab Alala dalam Membentuk Akhlak para santri 3

Kesimpulan. 4

 

 

PENDAHULUAN

Kitab Alala adalah sebuah karya yang kecil secara fisik namun memiliki cakupan ilmu yang sangat luas. Kitab ini sering menjadi rujukan dalam menuntut ilmu, terutama ilmu akhirat, ilmu akhlak dan motivasi belajar. Kitab ini telah menjadi bagian dari tradisi pembelajaran di pesantren-pesantren tradisional atau pesantren salafiah Nusantara. Kitab ini Ditulis dalam bentuk kumpulan nadham atau syair berbahasa Arab, kitab ini memiliki daya tarik yang khas dan memudahkan para pembelajar untuk memahami dan menghafalnya karena bentuknya yang berupa bait bait nadzom atau sya’ir.

Kitab ini dinamakan Alala karena diambil dari potongan kata pada bait pertama kitab tersebut, yaitu “Alala Tanalul Ilma”, yang berarti seruan dan Motivasi untuk terus Belajar. Nama ini mencerminkan inti pesan dari kitab ini, yaitu memberikan dorongan kuat bagi para penuntut ilmu untuk terus belajar dengan cara yang benar. Pengarang kitab ini adalah Muhammad Abu Basyir Al-Dimawi, seorang ulama yang sangat menghargai pentingnya ilmu dan metode pembelajaran yang efektif.

Latar Belakang dan Sejarah Penulisan Kitab

Kitab Alala muncul sebagai respons terhadap kebutuhan umat Islam akan pedoman praktis dalam menuntut ilmu. Kitab ini mengadaptasi konsep-konsep dari kitab Ta’limul Muta’allim karya Syekh Az-Zarnuji, yang sudah terkenal di dunia Islam sebagai panduan adab dan etika dalam mencari ilmu. Penulisnya, Muhammad Abu Basyir Al-Dimawi, menyusun kitab ini dalam format nadham untuk mempermudah penghafalan dan memberikan nilai estetika pada isinya. Kitab Alala terdiri dari satu jilid dan delapan halaman. Kitab ini berisi 37 nadhom-nadhom Arab yang diterjemahkan dalam bahasa Jawa Salaf.

Gambaran Isi Kitab

Kitab Alala terdiri atas 37 bait syair yang membahas berbagai aspek penting dalam menuntut ilmu, antara lain:

  1. Syarat-Syarat Mencari Ilmu: Menjelaskan persiapan mental dan spiritual yang harus dimiliki seorang murid.
  2. Mencari Teman: Pentingnya memilih teman yang baik untuk saling mendukung dalam belajar.
  3. Keutamaan Ilmu: Membahas nilai ilmu sebagai jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
  4. Metode Mencari Ilmu: Menekankan cara-cara efektif dalam belajar agar mendapatkan keberkahan.
  5. Fiqih dan Keutamaannya: Menguraikan pentingnya ilmu fiqih dalam memahami hukum-hukum syariat.
  6. Keutamaan Ahli Fiqih dibandingkan Ahli Ibadah: Menjelaskan perbedaan kedudukan antara keduanya dalam Islam.

Tujuan Penulisan Kitab Alala

Kitab ini ditulis dengan beberapa tujuan utama yaitu:

  1. Memberikan motivasi kepada penuntut ilmu untuk menekuni belajar dengan sungguh-sungguh.
  2. Menanamkan nilai-nilai akhlak mulia yang harus dimiliki oleh seorang murid dan guru.
  3. Mengintegrasikan ilmu agama dengan etika kehidupan sehari-hari.

Keutamaan dan Pentingnya Kitab Alala

Kitab ini bukan hanya sebagai panduan teknis, tetapi juga sebagai motivator bagi santri dalam perjalanan intelektual dan spiritual mereka. Setiap bait syair dalam kitab ini mengandung pesan mendalam yang mengarahkan pembelajar kitab ini untuk memahami adab, keutamaan ilmu, dan tanggung jawab seorang penuntut ilmu.

Relevansi Kitab Alala dalam Pembelajaran dan Pendidikan Akhlak di Pesantren

Di pesantren-pesantren salafiah (tradisional), kitab ini menjadi salah satu sumber penting dalam pendidikan akhlak dan pembentukan karakter. Pesan-pesan dalam nadham kitab Alala mengajarkan sikap tawadhu', disiplin, kesabaran, dan adab terhadap guru, yang merupakan inti dari pembelajaran di pesantren.

Kontribusi Kitab Alala dalam Membentuk Akhlak para santri

Sebagai bagian dari tradisi pembelajaran di pesantren pesantren, kitab Alala turut berkontribusi dalam membentuk generasi Muslim yang berakhlak mulia khususnya para santri. Kitab ini memberikan panduan praktis bagi santri untuk menjadi pribadi atau individu yang tidak hanya berilmu, tetapi juga bertakwa dan berakhlak mulya, sehingga mampu memberikan manfaat baik bagi dirinya sendiri, keluarganya, maupun kepada masyarakat di sekitarnya.

Kesimpulan

Kitab Alala adalah warisan intelektual yang luar biasa, menyajikan pedoman sederhana namun mendalam tentang cara menuntut ilmu yang baik dan benar, serta pendidikan adab dan akhlak. isinya yang ringkas namun padat akan makna, kitab ini senantiasa di kaji dan isinya selalu relevan sebagai bagian dari kurikulum pesantren tradisional maupun pesantren modern. Kitab ini bukan hanya menjadi panduan belajar, tetapi juga menjadi cerminan nilai-nilai dan akhlak Islam yang membentuk kepribadian umat Islam di Indonesia.